Duduk Berdiam Di Lantai Dasar Ka’bah.

November 9th, 2008

Perjalanan ke Jeddah.
Tiba-tiba kesibukan di dalam kabin beserta isinya meningkat sangat, membuat dada berdebar dan otak kanan tanpa menunggu perintah membuat kesimpulan; Ada yang salah dengan tumpanganku. Kenapa aku mau saja naik pesawat ini? Demikian pula sejumlah pertanyaan aku susun, tidak satu pun yang menyenangkan hati, sampai terdengar pengumuman dari pemilik pesawat; “Attention One!” bla bla … yang kupahami bahwa aku harus mengenakan sabuk pengaman.

Kemudian bermunculan beberapa wanita cantik dengan dandanan yang seadanya mengingat waktu masih sangat pagi. Mereka membereskan segala sesuatu dengan sikap yang tidak tergesa-gesa sehingga membuatku sedikit lega. Hatiku mulai senang dengan situasi tersebut, apalagi setelah mereka meminta kami semua untuk membuka jendela, hampir pasti bahwa pesawat kami sebentar lagi akan turun.

Benar saja, tak berapa lama terdengar pengumuman, diikuti turunnya beberapa monitor di atas tempat duduk, gambar pesawat yang kami tumpangi tampak di sana, berikut lokasi keberadaannya.

Bukan main! Canggih! Tetapi Read the rest of this entry »

Ketika Asa Itu Pergi.

November 7th, 2008

Tiba-tiba saja aku merasakan situasi yang sama. Masa lampau entah kapan atau di mana. Tetapi yang pasti pernah kulalui saat itu walau sejenak dan aku pun tersentak; Ketakutan untuk mengingat kembali apa yang telah terjadi serta dampak yang mengiringi kemudiannya.

Ah kamu, mengapa ini harus terulang kembali? Bukankah telah kau ketahui akibat yang akan menimpa, setelah situasi menjadi reda? Kemudian engkau akan kehilangan asa sebagaimana biasa, sampai tabib angkat bicara, luka lama itu telah terbuka.

Luluh lantak semua angan serenta kehidupan ini seolah terhenti tanpa arti. Sedangkan aku, kulihat diriku pada ujung sebuah jalan yang aku sendiri enggan untuk menapak. Dan aku melihat diriku terlunta-lunta di sana serta penyesalan yang tak terperi.

Mengasa bahagiapun aku tak berani, mengingat titian hidup yang telah kujalani. Hanya kepada-Mu Ilahi Robbi, kuserahkan diri untuk di timbang kanan dan kiri. Adapun hasil Engkaulah yang Mengetahui

Dalam rumah-Mu aku tersungkur, menunduk dan bertafakur. Kucari-cari bekal yang seukur, agar kupersembahkan kepada-Mu, sehingga hati ini menjadi jinak serta hilang gelegak di dalam dada yang gemuruh dan berdebur. Tapi apa mau dikata, bekal itu tak kunjung ada, atau memang aku tak punya?

Hanya tinggal lagi satu milikku yang selama ini kupelihara; itu pun atas perintah-Mu juga. Tak pernah aku men-dua kepada siapa pun kecuali Engkau dan aku rela. Kepada-Mu Aku berlindung; Dalam suka maupun duka; Entah kapan atau di mana; Baik sejenak ataupun lama.

Tuhan perkenankan aku.

Kosong

October 30th, 2008

Belum ada isi

Hello world!

July 28th, 2008

Hi. Welcome to my artless Blog. This is the first post with the purpose to learn how can I write correctly.

I hope that someone would help me learning to write in this ugly Blog.

Baradja.